Pages

Subscribe:

kamera

Rabu, 07 Maret 2012

Kesepian

Langit tak menunjukkan keindahannya, matahari pun nampak muram sehingga ia enggan keluar dari singgasananya. Hujan mengawali pagi hari dimana Sinta memulai segalanya. Sinta membuka matanya perlahan dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia bergegas untuk berangkat sekolah.
Sinta keluar dari kamarnya dan menuju keluar rumah.

“mama..!! Sinta berangkat sekolah ya!” kata Sinta dengan tergesa-gesa. Belum sempat ibunya menjawab, Sinta sudah meninggalkan rumahnya.

Setibanya Sinta di pintu gerbang sekolah, ia bahagia karna melihat pemandangan yang selalu membuatnya tersenyum senang. Sinta melihat Ricko, temannya. Sudah hampir satu bulan Sinta selalu memerhatikan Ricko tapi Ricko tidak menunjukkan reaksi apapun.

“hari ini gue punya kabar baik buat diri gue sendiri! Pertama, gue gak terlambat dateng ke sekolah. Kedua, pagi-pagi gini walaupun ujan.. gue bisa ngeliat Ricko!” kata Sinta pada dirinya sendiri.
Sinta sebenarnya ingin berlama-lama di depan pintu gerbang sekolah dan memerhatikan Ricko. Tetapi, ia harus segera masuk kelas.

Sesampainya Sinta di kelas, ia melihat pemandangan biasa yang membuatnya bosan. Teman-temannya sedang bertukar pikiran alias contek-mencontek. Sinta tidak berminat untuk berpartisipasi dalam contek-mencontek itu.

“Ke! Lo belum ngerjain pr ini? Ya’ampun! Kemana aja sih lo?” kata Sinta pada teman sebangkunya, Keila.
“belum Sin! Lo udah?” Tanya Keila.
“udahlah! Lo gimana sih! Itu pr ipa? Itu kan udah dari seminggu yang lalu! Kenapa gak dikerjain di rumah? Haduuh!!!”
“males gue ah! Eh,, Sin! Sini deh duduk” Keila menarik Sinta sampai Sinta duduk di kursinya.
“ada apaan sih Ke? Mesti duduk segala!” Sinta bingung.
“tapi,, gue takut lo nangis kalo dengernya!” wajah Keila prihatin.
“kenapa sih? Gue gak nangis deh! Janji!”
“Ricko,, jadian sama Rena!”
“oh,, cuma itu?” wajah Sinta berubah tapi Sinta mencoba untuk berpura-pura tersenyum dan tidak peduli.
“lo gapapa?” Tanya Keila.
“ya,, gue gapapa! Emangnya apa hubungannya gue sama Ricko?” Sinta berlagak tidak peduli.

Keila tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Keila tahu yang Sinta katakan untuk menguatkan hatinya.
‘jadi,, Ricko,, huuft.. yaudahlah!’ batin Sinta.
Sinta berjalan keluar kelas meninggalkan Keila yang kembali sibuk mengerjakan pr. Sinta melihat rintikan air hujan dari depan kelasnya. Sinta melihat dengan jelas ada Ricko di seberang. Tak terasa air mata Sinta mengalir.

Siang hari yang terik menghapus lembabnya hujan tadi pagi. Sinta yang terbaring di tempat tidurnya tidak bisa menahan tangisnya.

Sinta bangkit dan berjalan menuju lemari kamarnya. Ia membuka lemarinya dan mengambil sapu-tangan yang ia rajut sendiri. Di sapu-tangan itu tertera nama Ricko. Sinta mencoba untuk merusak sapu-tangan itu tapi tidak bisa. Sinta mengambil gunting dan mencabik-cabik sapu-tangan itu.

“percuma! Percuma gue ngerajut nama Ricko sebagus apapun! Bahkan percuma kalo gue ngerajut namanya di hati gue! semua itu gak akan bisa ngerubah kenyataan kalo dia bukan buat gue!” kata Sinta.
Sinta memejamkan matanya. Sinta berharap semua ini mimpi dan Sinta ingin ia melupakan semua yang pernah ia harapkan. Selama ini, Sinta selalu berharap bisa menjadi sesuatu yang special bagi Ricko. Tapi, kini semua itu menjadi sia-sia.

“kalo di otak gue ada tombol delete,, pasti semua harapan gue tentang Ricko udah ilang sekarang!” Sinta mencoba tersenyum.

“gue gak boleh cengeng! Gue masih punya sahabat,, gue punya keluarga yang sayang sama gue! apa yang kurang dari hidup gue ini? Udah lengkap menurut gue! gue gak butuh yang lain lagi!” Sinta benar-benar tersenyum sekarang. Ia memikirkan hal-hal yang selalu membuatnya bahagia.

Sinta keluar dari kamarnya dan melihat ada sahabat-sahabatnya menunggu di ruang tamu. Sinta bingung karena sebelumnya ia tidak punya janji dengan sahabatnya.
“kalian di sini?” Sinta bingung.
“iya.. gue pikir, lo lagi butuh temen jadi, gue ajak yang lain ke sini juga!” kata Keila.
“tapi kok, tadi gue gak di panggil? Kenapa kalian gak manggil gue?” Tanya Sinta.
“ehm,, kita takut ganggu kamu Sin.. jadi kita tunggu aja di sini!” kata Lisya.
Sinta menghampiri sahabat-sahabatnya itu. Sinta duduk di samping Gita. Gita tersenyum menatap Sinta.
“kalian,, ehm,, huft,, jujur aja! Kalian ke sini karena kasihan ya sama gue?” tanya Sinta.
“kita gak kasihan kok sama lo! Kita Cuma prihatin Sin!” kata Gita.
“sama aja Git!” Sinta menunduk.
“kita tau kamu butuh temen! Jadi kita ada di sini! Kita akan selalu ada kalo kamu butuhin Sin!” kata Lisya.

Sinta tersenyum senang mendengar pernyataan sahabatnya yang terdengar sangat peduli dengannya.
“makasih ya guys! Kalian baik banget!”
Sahabat-sahabat Sinta tersenyum senang melihat Sinta tersenyum. Mereka menghabiskan siang hari bersama-sama. Dan mereka berjanji satu-sama lain untuk akan terus bersama walaupun apapun yang terjadi.



Dua bulan telah berlalu, Sinta termenung sendirian di perpustakaan sekolahnya yang sepi. Ia begitu bingung dengan perasaan yang ia rasakan. Sinta mengambil kertas dan pensil yang ada di dalam tas-nya. Sinta mulai menulis apa yang ia rasakan karena ia sulit untuk mengungkapkannya secara lisan.

Aku punya segalanya yang aku inginkan,,
Aku mendapat semua kasih sayang yang aku butuhkan,,
Aku juga tidak sendirian!
Aku mempunyai banyak sahabat yang peduli padaku,
Aku juga mempunyai keluarga yang menyayangiku..
Tapi perasaanku lain dengan keadaan ini..
Rasanya aneh! Sulit untuk aku ungkapkan!
Aku merasa hampa! Kosong!
Aku harus menyebut ini apa?


Sinta melipat kertasnya dan menyingkirkannya dari meja membacanya di perpustakaan.
“mungkin kesepian!” suara dari belakang mengejutkan Sinta.
Sinta menoleh dan sangat terkejut. Tepat di belakang Sinta, ada Ricko yang sedang membawa kertas yang Sinta singkirkan tadi. Ricko mengambil kursi di sebelah Sinta dan mendudukinya.

“boleh duduk di sini kan gue?” Tanya Ricko. Sinta hanya bisa mengangguk karna bingung.
“tadi,, lo bilang apa?” Tanya Sinta
“gue bilang,, mungkin lo kesepian?”
“gak mungkin! Karena gue punya banyak sahabat!” kata Sinta.
“dari luar semua orang juga gak akan keliatan kesepian! Tapi,, mungkin hati lo yang kesepian!” kata Ricko sambil memberikan senyuman manis.
“terus,, apa yang bisa buat gue gak kesepian?” Tanya Sinta.
“menurut lo?? Jelas gue gak tau! Cuma lo sendiri yang tau apa yang lo mau!” kata Ricko. Ricko menatap mata Sinta dengan tajam.
“ehm,, entahlah!” Sinta mengalihkan pandangannya.
“tau gak sih Sin! Baru sekarang gue berani ngomong sama lo!” kata Ricko mencoba menatap Sinta.
“emangnya kenapa? Emangnya sebelumya lo takut sama gue?” Sinta bingung atas pernyataan Ricko.
Ricko tersenyum dan berkata “iya! Gue takut jantung gue copot kalo ngomong sama lo! Tapi,, ternyata gak! jantung gue cuma berdetak lebih cepet!”
“apaan sih lo Ricko! Oh,, iya! Bukannya lo pacaran sama Rena ya?” Tanya Sinta.
“udah lama banget kali!” kata Ricko.
“sekarang masih?”
“yup!”
‘kalo lo masih pacaran sama Rena,, kenapa harus ngomong jantung mau copot segala coba?’ batin Sinta.
“oh iya,, Sinta! Gue suka sama lo!” kata Ricko.
“maksud lo apa sih Ricko?” Sinta jadi kesal dengan sikap Ricko.
“gue suka sama lo! Gue mau lo jadi sahabat gue karna gue udah lama ngincer lo jadi orang yang special buat gue!” kata Ricko.
“maksudnya?”
“kalo lo mau,, lo bisa jadi orang yang sangat special bagi gue! ‘SAHABAT’ lo mau kan jadi sahabat gue? please…!” Ricko memohon sampai ia berlutut di hadapan Sinta.
“haha,, lebay banget sih! Pastinya gue mau jadi sahabat lo! Tapi,, lo harus janji! Lo harus bantuin gue nemuin obat kesepian gue!” kata Sinta.

“gak perlu repot kok! Obat kesepian lo itu kan gue!” Ricko membanggakan dirinya.
Sinta tersenyum mendengarkan pernyataan Ricko.
‘mungkin,, ini udah takdir! Dan gue seneng banget bisa sahabatan sama Ricko! Selama ini,, gue berharap bisa jadi sesuatu yang special buat Ricko! Dan,, sekarang tercapai! Gue ngerti,, sahabat lebih special dari apapun itu! sekarang semuanya berjalan sempurna’ batin Sinta

0 komentar:

Posting Komentar

ending

Terima kasih!!